Dimulai dengan latar peperangan dimana baku tembak terjadi secara
terus-menerus. Suara tembakan nyaring terdengar serta banyaknya korban yang
berjatuhan. Tidak ada yang menyangka bahwa kejadian tersebut akan menjadi
bagian dari sejarah yang bersifat sangat rahasia.
Waktu pun berlalu, mesin fotokopi terlihat sibuk bekerja, mencetak ulang
dokumen negara yang sangat rahasia. Dokumen yang salah satu isinya menyebut
bahwa pengiriman tentara Amerika ke Vietnam pada 1960-an sampai 1970-an 70
persen hanya untuk menjaga gengsi Negara Adikuasa itu, padahal periset sudah
tahu mereka takkan menang atau yang lebih dikenal sebagai Pentagon Papers. Dari
ruang fotokopi itulah konflik dalam film The Post dimulai.
Steven Spielberg selaku sutradara film bertema jurnalis ini, mengarahkan
bintang senior Meryl Streep dan Tom Hanks yang menjadi penerbit perempuan
pertama di AS serta Editor Eksekutif The Washington Post. Ia lagi-lagi harus
berkecimpung dengan sejarah AS, seperti saat tangannya membidani film seperti
Schindler's List, Saving Private Ryan, Lincoln, Bridge of Spies, dan Munich.
Meski jalan cerita pada film ini terdengar membosankan, Spielberg tak
pernah kehilangan sentuhan ajaibnya. Ia berhasil membuat konflik internal media
yang tak banyak dimengerti khalayak umum serta sejarah Amerika menjadi tontonan
asyik dan cukup menegangkan.
Dari Perang Vietnam di mana Daniel (Matthew Rhys) periset militer
berambut panjang yang dipekerjakan Menteri Pertahanan Robert McNamara (Bruce
Greenwood) terjun mengamati untuk kemudian menyimpulkan bahwa AS takkan
memenangi perang melawan komunis itu, Spielberg mengajak penonton masuk ke
lingkungan media. Konfliknya berganti internal.
Ada Kay Graham (Streep) yang bimbang karena harus meneruskan bisnis
keluarga padahal ia tak pernah 'dipaksa bekerja' sebelumnya, memutuskan saham
The Washington Post untuk melantai di bursa. Selama ini ia hanya 'lady' yang
berteman dengan banyak politisi.
Ia sering berselisih paham dengan Ben Bradlee (Hanks), editor eksekutif
yang percaya korannya harus melakukan sesuatu untuk bersaing. Mimpinya adalah
menjadikan The Washington Pos tak hanya koran lokal. Ia tak mau berita utamanya
hanya hal-hal baik tentang negaranya saja.
Mereka menyebut bahwa tentara AS mengalami kemajuan pesat di Vietnam.
Selama bertahun-tahun, dari presiden ke presiden, mulai Dwight Eisenhower, JFK,
Lyndon Johnson sampai yang berkuasa saat itu, Nixon, mereka tetap mengirim
pemuda-pemuda AS ke medan perang.
Keputusan The Washington Post untuk tetap menerbitkannya, di tengah
kekhawatiran soal hukum dan investor yang melepas saham, pada akhirnya mengubah
sejarah Amerika. Itu juga mengubah sejarah surat kabar yang sudah didirikan
sejak 1877 itu.
Tak heran film itu mendapat enam nominasi di Golden Globes 2018 dan
dipilih sebagai Film Terbaik 2017 oleh National Board of Review. Time dan
American Film Institute memasukkannya sebagai salah satu dari 10 Film tahun
Ini. Ia juga berjaya di Writers Guild of America.
Meskipun awalnya film ini terlihat membosankan, namun setelah mengikuti
jalan ceritanya, film ini menjadi sangat menarik. Film ini sangat cocok bagi
masyarakat serta orang-orang yang ingin memperdalam pengetahuan mereka tentang
kebebasan pers di AS karena ia menggambarkan dengan cukup jelas hal terkait
industri jurnalistik.
Comments
Post a Comment